Ambon Salasa Hatulekal hanya bisa pasrah saat dipindah tugas
oleh Dinas Pendidikan ke sebuah SD kecil di Pulau Sjahrir, Ambon. Di
sekolah ini, Salasa yang merupakan kepala sekolah juga merangkap sebagai
guru mata pelajaran umum untuk murid kelas 1 sampai 6 SD.
"Guru PNS saja tidak mau di sini. Tiga guru di sini, masih honorer semua," kata Salasa
Salasa yang sudah 10 tahun menjadi pegawai honorer ini, baru satu
setengah tahun menjadi guru pelaksana harian di SD Kecil Pulau Sjahrir.
Sebelum di sini, Salasa mengajar di SD Negeri Baby Mandi di Desa Wair,
Pulau Banda Besar.
"Saya di sini bukan kemauan diri sendiri. Kebijakan dari Kepala
Kantor (Dinas Pendidikan) Kota Neira. Soalnya, saya di sini mengelola
satu sekolah," kata Salasa.
Dia menerima perintah itu karena ingin mendapatkan SK (surat keputusan) menjadi pegawai negeri sipil (PNS).
Dulu, kata dia, bangunan sekolah yang terdiri dari dua kelas (ruangan
bersekat) tempatnya mengajar adalah perpustakaan. Sementara 24 orang
murid di sekolah ini, sebelumnya bersekolah di Desa Induk, Desa Selamon
yang bisa ditempuh selama lima menit dari Pulau Sjahrir menggunakan
kapal motor.
"Kendala sekolah ini, bangunannya yang kurang diperhatikan. Buku-buku
dan alat tulisanya juga. Padahal, anak-anak di sini pintar. Saya cuma
tidak mau anak-anak di sini kalah dari anak-anak di Neira," kata Salasa.
"Sistem di sini juga mengajar pakem. Dua kelas menjadi satu. Satu
guru harus menguasai bidang studi kelas 1 sampai kelas 6. Kalau enggak,
tidak bisa mengajar," Salasa menambahkan.
Digaji hanya Rp 350 ribu per bulan
Kalau boleh memilih, di saat SK pengangkatan jadi PNS diterima,
Salasa ingin mengajar di SD yang lain. Selain itu, dia berharap gajinya
bisa naik. Sebab, pendapatan yang sekarang dia terima hanya Rp 350 ribu
per bulan.
"Buat kebutuhan sendiri saja tidak cukup, apalagi keluarga?" kata
Salasa. Istri dan ketiga anaknya tinggal di Desa Wair. Salasa harus
mengirimkan uang ke sana Rp 300 ribu dan sisa uang Rp 50 ribu untuk
mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Bagi Salasa, yang penting anak-anak dan istrinya bisa hidup dan tidak
kekurangan. Dia juga tidak mau, hanya gara-gara pendapatannya yang
kecil, anak-anaknya sampai putus sekolah.
"Sekarang saja sedang menempuh pendidikan S1 di Universitas Terbuka
di Neira. Demi mengejar S1 agar ketika jadi PNS ada titel SPd (Sarjana
Pendidikan)," kata Salasa.
Namun, apabila Dinas Pendidikan masih menginginkannya untuk terus di SD Kecil Pulau Sjahrir, tak masalah asal gaji berubah.
"Ini amanah Allah SWT, bukan kemauan saya," pungkas Salasa.
Alangkah LUCUnya Negeri Kita
pendidikan
Sosial Budaya
Ironi Kepala Sekolah yang Digaji Hanya Rp 350 Ribu Sebulan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


EmoticonEmoticon