Joko Widodo
Ir. H. Joko Widodo (O Jawa:
Jaka Widada, Jawa Latin: Jåkå Widådå, atau yang lebih akrab disapa Jokowi
(lahir di Surakarta,
Jawa Tengah,
21 Juni 1961; umur 55 tahun)
adalah Presiden ke-7 Indonesia yang mulai menjabat
sejak 20 Oktober
2014. Ia terpilih bersama Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla dalam Pemilu Presiden 2014.
Jokowi pernah menjabat Gubernur DKI Jakarta sejak 15 Oktober
2012 sampai dengan 16 Oktober
2014 didampingi Basuki Tjahaja Purnama sebagai wakil gubernur.
Sebelumnya, dia adalah Wali Kota Surakarta
(Solo),
sejak 28 Juli 2005 sampai dengan 1 Oktober
2012 didampingi F.X. Hadi Rudyatmo sebagai wakil wali kota.
Dua tahun menjalani periode keduanya menjadi Wali Kota Solo, Jokowi ditunjuk oleh
partainya, Parta
i Demokrasi Indonesia Perjuangan
(PDI-P), untuk bertarung dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Joko Widodo berasal dari keluarga sederhana. Bahkan, rumahnya
pernah digusur sebanyak tiga kali, ketika dia masih kecil, tetapi ia mampu
menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada. Setelah lulus, dia
menekuni profesinya sebagai pengusaha mebel. Karier politiknya
dimulai dengan menjadi Wali Kota Surakarta pada tahun 2005.Namanya mulai dikenal
setelah dianggap berhasil mengubah wajah Kota Surakarta
menjadi kota pariwisata, kota budaya, dan kota batik. Pada tanggal 20 September
2012, Jokowi berhasil memenangi Pilkada Jakarta 2012.
Kemenangannya dianggap mencerminkan dukungan populer untuk seorang pemimpin
yang "muda" dan "bersih", meskipun umurnya sudah lebih dari
lima puluh tahun.
Semenjak terpilih sebagai gubernur, popularitasnya terus melambung
dan menjadi sorotan media. Akibatnya, muncul wacana untuk menjadikannya calon
presiden untuk pemilihan umum presiden Indonesia
2014. Ditambah lagi, hasil survei menunjukkan, nama Jokowi terus
unggul. Pada awalnya, Ketua Umum PDI-P,
Megawati Soekarnoputri menyatakan bahwa ia
tidak akan mengumumkan calon presiden dari PDI Perjuangan
sampai setelah pemilihan umum legislatif
9 April 2014. Namun, pada tanggal 14 Maret 2014, Jokowi menerima mandat dari Megawati
untuk maju sebagai calon presiden, tiga minggu sebelum pemilihan umum
legislatif dan dua hari sebelum kampanye.[15]
Masa kecil dan keluarga
Joko Widodo lahir dari pasangan Noto Mihardjo dan Sudjiatmi dan
merupakan anak sulung dan putra satu-satunya dari empat bersaudara. Ia memiliki
tiga orang adik perempuan bernama Iit Sriyantini, Ida Yati dan Titik Relawati[16].
Ia sebenarnya memiliki seorang adik laki-laki bernama Joko Lukito, namun
meninggal saat persalinan. Sebelum berganti nama, Joko Widodo memiliki nama
kecil Mulyono.[17]
Ayahnya berasal dari Karanganyar, sementara kakek dan neneknya
berasal dari sebuah desa di Boyolali.[18]
Pendidikannya diawali dengan masuk SD Negeri 112 Tirtoyoso yang dikenal sebagai
sekolah untuk kalangan menengah ke bawah.[19]
Dengan kesulitan hidup yang dialami, ia terpaksa berdagang,
mengojek payung, dan jadi kuli panggul untuk mencari sendiri keperluan sekolah
dan uang jajan sehari-hari. Saat anak-anak lain ke sekolah dengan sepeda, ia
memilih untuk tetap berjalan kaki. Mewarisi keahlian bertukang kayu dari
ayahnya, ia mulai bekerja sebagai penggergaji di umur 12 tahun[6][20].
Jokowi kecil telah mengalami penggusuran rumah sebanyak tiga kali. Penggusuran
yang dialaminya sebanyak tiga kali pada masa kecil mempengaruhi cara
berpikirnya dan kepemimpinannya kelak setelah menjadi Wali Kota Surakarta
saat harus menertibkan permukiman warga.[21]
Setelah lulus SD, ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Surakarta.[22]
Ketika ia lulus SMP, ia sempat ingin masuk ke SMA Negeri 1 Surakarta, namun gagal sehingga
pada akhirnya ia masuk ke SMA Negeri 6 Surakarta.[23]
Jokowi menikah dengan Iriana di
Solo, tanggal 24 Desember 1986, dan memiliki 3 orang anak, yaitu Gibran Rakabuming Raka (1988), Kahiyang Ayu
(1991), dan Kaesang Pangarep (1995)
Masa kuliah dan berwirausaha
Dengan kemampuan akademis yang dimiliki, ia diterima di Jurusan
Kehutanan, Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada. Kesempatan ini
dimanfaatkannya untuk belajar struktur kayu, pemanfaatan, dan teknologinya. Ia
berhasil menyelesaikan pendidikannya dengan judul skripsi "Studi tentang
Pola Konsumsi Kayu Lapis pada Pemakaian Akhir di Kodya Surakarta".
Setelah lulus pada 1985, ia bekerja di BUMN PT Kertas Kraft Aceh,
dan ditempatkan di area Hutan Pinus Merkusii di Dataran Tinggi Gayo, Aceh Tengah.
Namun ia merasa tidak betah dan pulang menyusul istrinya yang sedang hamil
tujuh bulan. Ia bertekad berbisnis di bidang kayu dan bekerja di usaha milik
Pakdenya, Miyono, di bawah bendera CV Roda Jati. Pada tahun 1988, ia
memberanikan diri membuka usaha sendiri dengan nama CV Rakabu, yang diambil
dari nama anak pertamanya. Usahanya sempat berjaya dan juga naik turun karena
tertipu pesanan yang akhirnya tidak dibayar. Namun pada tahun 1990 ia bangkit
kembali dengan pinjaman modal Rp 30 juta dari Ibunya.[24]
Usaha ini membawanya bertemu Micl Romaknan, yang akhirnya
memberinya panggilan yang populer hingga kini, "Jokowi". Dengan
kejujuran dan kerja kerasnya, ia mendapat kepercayaan dan bisa berkeliling
Eropa yang membuka matanya. Pengaturan kota yang baik di Eropa menjadi
inspirasinya untuk diterapkan di Solo dan menginspirasinya untuk memasuki dunia
politik. Ia ingin menerapkan kepemimpinan manusiawi dan mewujudkan kota yang
bersahabat untuk penghuninya yaitu daerah Surakarta.[20]
Kiprah politik
Pada pilkada kota Solo pada tahun 2005, Jokowi diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
(PDI-P) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk maju
sebagai calon wali kota Surakarta. Ia berhasil memenangkan pemilihan tersebut dengan
persentase suara sebesar 36,62%.[7]
Setelah terpilih, dengan berbagai pengalaman pada masa muda, ia mengembangkan
Solo yang sebelumnya buruk penataannya dan menghadapi berbagai penolakan
masyarakat untuk ditertibkan. Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami
perubahan dan menjadi kajian di universitas dalam dan luar negeri.[8]
Salah satunya adalah kemampuan komunikasi politik Jokowi yang berbeda dengan
kebanyakan gaya komunikasi politik pemimpin lain pada masa itu, yang menjadi
kajian riset mahasiswa pascasarjana Universitas Indonesia.[25]
Di bawah kepemimpinannya, bus Batik Solo Trans diperkenalkan,[26]
berbagai kawasan seperti Jalan Slamet Riyadi dan Ngarsopuro diremajakan,[27]
dan Solo menjadi tuan rumah berbagai acara internasional.[27]
Selain itu, Jokowi juga dikenal akan pendekatannya dalam merelokasi pedagang
kaki lima yang "memanusiakan manusia".[28]
Berkat pencapaiannya ini, pada tahun 2010 ia terpilih lagi sebagai Wali
Kota Surakarta dengan suara melebihi 90%.[29]
Kemudian, pada tahun 2012, ia dicalonkan oleh PDI-P sebagai calon Gubernur DKI
Jakarta.[5]
Gubernur DKI Jakarta
Pilkada 2012 putaran I
Jokowi diminta secara pribadi oleh Jusuf Kalla
untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta[30]
pada Pilgub DKI tahun 2012. Karena merupakan kader PDI Perjuangan, maka Jusuf
Kalla meminta dukungan dari Megawati Soekarnoputri, yang awalnya terlihat masih
ragu. Sementara itu Prabowo Subianto juga melobi PDI Perjuangan agar bersedia
mendukung Jokowi sebagai calon gubernur karena membutuhkan 9 kursi lagi untuk
bisa mengajukan Calon Gubernur.[31]
Pada saat itu, PDI Perjuangan hampir memilih untuk mendukung Fauzi Bowo dan
Jokowi sendiri hampir menolak dicalonkan.[32]
Sebagai wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama yang saat itu menjadi anggota DPR
dicalonkan mendampingi Jokowi dengan pindah ke Gerindra karena Golkar telah
sepakat mendukung Alex Noerdin sebagai Calon Gubernur.[33]
Pasangan ini awalnya tidak diunggulkan. Hal ini terlihat dari
klaim calon pertama yang diperkuat oleh Lingkaran Survei Indonesia bahwa pasangan
Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli akan memenangkan pilkada dalam 1 putaran.[34]
Selain itu, PKS yang meraup lebih dari 42 persen suara untuk Adang Daradjatun
di pilkada 2007 juga
mengusung Hidayat Nur Wahid yang sudah dikenal rakyat
sebagai Ketua MPR RI periode 2004-2009. Dibandingkan dengan partai lainnya,
PDI-P dan Gerindra hanya mendapat masing-masing hanya 11 dan 6 kursi dari total
94 kursi, jika dibandingkan dengan 32 kursi milik Partai Demokrat untuk Fauzi
Bowo, serta 18 Kursi milik PKS untuk Hidayat Nur Wahid.[35]
Namun LP3ES sudah memprediksi bahwa Jokowi dan Fauzi Bowo akan bertemu di
putaran dua.[36]
Hitung cepat yang dilakukan sejumlah lembaga survei pada hari
pemilihan, 11 Juli 2012 dan sehari setelah itu, memperlihatkan Jokowi memimpin,
dengan Fauzi Bowo di posisi kedua.[37]
Pasangan ini berbalik diunggulkan memenangi pemilukada DKI 2012
karena kedekatan Jokowi dengan Hidayat Nur Wahid saat pilkada Wali Kota Solo
2010[38]
serta pendukung Faisal Basri dan Alex Noerdin dari hasil survei cenderung
beralih kepadanya.[39]
Pilkada 2012 putaran II
Jokowi berusaha menghubungi dan mengunjungi seluruh calon,[40]
termasuk Fauzi Bowo,[41]
namun hanya berhasil bersilaturahmi dengan Hidayat Nur Wahid[42]
dan memunculkan spekulasi adanya koalisi di putaran kedua.[43]
Setelahnya, Fauzi Bowo juga bertemu dengan Hidayat Nur Wahid.
Namun keadaan berbalik setelah partai-partai pendukung calon
lainnya di putaran pertama malah menyatakan dukungan kepada Fauzi Bowo.[44]
Hubungan Jokowi dengan PKS juga memburuk dengan adanya tudingan bahwa tim
sukses Jokowi memunculkan isu mahar politik Rp50 miliar.[45]
PKS meminta isu ini dihentikan,[46]
sementara tim sukses Jokowi menolak tudingan menyebutkan angka imbalan tersebut.[47]
Kondisi kehilangan potensi dukungan dari partai-partai besar diklaim Jokowi
sebagai fenomena "Koalisi Rakyat melawan Koalisi Partai".[48]
Klaim ini dibantah pihak Partai Demokrat karena PDI Perjuangan dan Gerindra
tetap merupakan partai politik yang mendukung Jokowi, tidak seperti Faisal Basri
dan Hendrardji yang merupakan calon independen.[49]
Jokowi akhirnya mendapat dukungan dari tokoh-tokoh penting seperti Misbakhun
dari PKS,[50]
Jusuf Kalla dari Partai Golkar,[51]
Indra J Piliang dari Partai Golkar,[52]
serta Romo Heri yang merupakan adik ipar Fauzi Bowo.[53]
Pertarungan politik juga merambah ke dunia media sosial dengan
peluncuran Jasmev,[54]
pembentukan media center,[55]
serta pemanfaatan media baru dalam kampanye politik seperti Youtube.[56]
Pihak Fauzi Bowo menyatakan juga ikut turun ke media sosial, namun mengakui
kelebihan tim sukses dan pendukung Jokowi di kanal ini.[57]
Putaran kedua juga diwarnai berbagai tudingan kampanye hitam, yang
antara lain berkisar dalam isu SARA,[58]
isu kebakaran yang disengaja,[59]
korupsi,[60]
dan politik transaksional.[61]
Menjelang putaran kedua, berbagai survei kembali bermunculan yang
memprediksi kemenangan Jokowi, antara lain 36,74% melawan 29,47% oleh SSSG,[62]
72,48% melawan 27,52% oleh INES,[63]
45,13% melawan 37,53% dalam survei elektabilitas oleh IndoBarometer,[64]
dan 45,6% melawan 44,7% oleh Lembaga Survei Indonesia.[65]
Setelah pemungutan suara putaran kedua, hasil penghitungan cepat
Lembaga Survei Indonesia memperlihatkan pasangan Jokowi - Ahok sebagai pemenang
dengan 53,81%. Sementara rivalnya, Fauzi Bowo
- Nachrowi Ramli
mendapat 46,19%.[66]
Hasil serupa juga diperoleh oleh Quick Count IndoBarometer 54.24% melawan
45.76%,[67]
dan lima stasiun TV.[68]
Perkiraan sementara oleh metode Quick Count diperkuat oleh Real Count PDI
Perjuangan dengan hasil 54,02% melawan 45,98%,[69]
Cyrus Network sebesar 54,72% melawan 45,25%.[70]
Dan akhirnya pada 29 September 2012, KPUD DKI Jakarta menetapkan
pasangan Jokowi - Ahok sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI yang baru untuk
masa bakti 2012-2017 menggantikan Fauzi Bowo
- Prijanto.[71][72]
Sebelum dan sesudah Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta, ia
berjanji bahwa ia akan menambah 1000 unit bus Transjakarta, lalu ia bisa
dihubungi wartawan 24 jam, bahwa ia akan bekerja 1 jam di kantor dan sisanya
tinjau pelayanan publik. Ia juga berkata bahwa dirinya tidak akan menggusur Pedagang Kaki Lima (PKL), dan juga akan
membangun kampung susun yang bukan apartemen; lalu ia akan memperbaiki sistem
pendidikan dan kesehatan, memberikan penghargaan ke semua ketua RT dan RW, dan
ia juga menjanjikan akan menambah ruang publik bagi remaja DKI.[73]
Pada saat terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta, permasalahan mulai berdatangan,
dan semenjak musim hujan melanda Jakarta dan masalah macet tidak usai, publik
DKI mulai pesimis dan meragukan kemampuan Jokowi dalam mengatasi masalah
ibukota.[74]
Pasca Pilkada 2012
Setelah resmi menang di perhitungan suara, Jokowi masih diterpa
isu upaya menghalangi pengunduran dirinya oleh DPRD Surakarta, namun dibantah
oleh DPRD.[75]
Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi juga menyatakan akan turun tangan
jika masalah ini terjadi,[76]
karena pengangkatan Jokowi sebagai Gubernur DKI Jakarta tidak dianggap
melanggar aturan mana pun jika pada saat mendaftar sebagai Calon Gubernur sudah
menyatakan siap mengundurkan diri dari jabatan sebelumnya jika terpilih, dan
benar-benar mengundurkan diri setelah terpilih.[77]
Namun setelahnya, DPR merencanakan perubahan terhadap Undang-Undang No 34 tahun
2004, sehingga setelah Jokowi, kepala daerah yang mencalonkan diri di daerah
lain, harus terlebih dahulu mengundurkan diri dari jabatannya pada saat
mendaftarkan diri sebagai calon.[78]
Atas alasan administrasi terkait pengunduran diri sebagai Wali
Kota Surakarta dan masa jabatan Fauzi Bowo yang belum berakhir, pelantikan
Jokowi tertunda[79]
dari jadwal awal 7 Oktober 2012 menjadi 15 Oktober 2012.[80]
Acara pelantikan diwarnai perdebatan mengenai biaya karena adanya pernyataan
Jokowi yang menginginkan biaya pelantikan yang sederhana.[81]
DPRD kemudian menurunkan biaya pelantikan menjadi Rp 550 juta, dari awalnya
dianggarkan Rp 1,05 miliar dalam Perubahan ABPD. Acara pelantikan juga
diramaikan oleh pedagang kaki lima yang menggratiskan dagangannya.[82]
Sehari usai pelantikan, Jokowi langsung dijadwalkan melakukan
kunjungan ke masyarakat.[83]
Kebijakan Selama Menjadi Gubernur
Kebijakan Joko Widodo selama menjabat Gubernur DKI Jakarta banyak
yang bersifat populis, seperti Kampung Deret, Kartu Jakarta Sehat dan Kartu
Jakarta Pintar. Namun beberapa juga mendatangkan keberatan masyarakat, seperti
dalam perbaikan saluran air, peremajaan bus kecil, dan sterilisasi jalur
busway.
Di awal menjabat, ia mendahulukan program bantuan sosial melalui
Kartu Jakarta Sehat[84]
dan Kartu Jakarta Pintar[85],
dan setelah mendapat kendali atas APBD, menjalankan pembenahan saluran air di
DKI Jakarta melalui program JEDI. Beberapa program
transportasi warisan pemerintahan sebelumnya seperti 6 Ruas Tol dan Monorail
terhambat. Sebaliknya, ia berkonsentrasi kepada transportasi massal MRT
Jakarta, penambahan armada Transjakarta, dan peremajaan bus kecil. Ia juga
mengupayakan pengambilalihan pengelolaan Sumber Daya Air melalui akuisisi Aetra
dan Palyja.
Ia berperan dalam mengurangi diskriminasi dan nepotisme dalam
jenjang karier Pegawai Negeri Sipil di DKI Jakarta melalui
penerapan lelang jabatan. Sebagai salah satu dampaknya adalah terpilihnya
pejabat dari kalangan minoritas yang mendapat penolakan masyarakat. Misalnya
dalam kasus Lurah Susan.[86]
Jokowi menyatakan dukungan bagi Lurah Susan.[86]
Pada masa pemerintahannya pula, DKI Jakarta mengadakan beberapa
event kreatif seperti Jakarta Night Festival[87],
Pesta rakyat[88],
dan Festival Keraton Sedunia.[89]
Ia juga memperbaiki kebersihan lingkungan di Jakarta, antara lain dengan
melarang atraksi Topeng Monyet.[90]
Kepresidenan
Pencalonan awal
Setelah terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta, popularitas Jokowi
melejit berkat rekam jejaknya yang baik dan pendekatannya yang membumi dan
pragmatis, seperti yang ditunjukkan melalui program "blusukan" untuk
memeriksa keadaan di lapangan secara langsung.[10]
Akibatnya, Jokowi merajai survei-survei calon presiden dan menyingkirkan
kandidat lainnya,[13]
sehingga muncul wacana untuk menjadikannya calon presiden.[12]
Namun, selama berbulan-bulan wacana tersebut menjadi tidak pasti karena
pencalonan Jokowi di PDI-P
harus disetujui oleh Ketua Umum PDI-P
Megawati Soekarnoputri, dan ia menegaskan baru
akan menentukan calon setelah pemilihan umum legislatif
pada bulan April.[14]
Namun, pada tanggal 14 Maret 2014, Megawati akhirnya menulis
langsung surat mandat kepada Jokowi untuk menjadi calon presiden, dan Jokowi
mengumumkan bahwa ia bersedia dan siap melaksanakan mandat tersebut untuk maju
sebagai calon presiden Republik Indonesia dalam pemilihan umum presiden Indonesia
2014.[91]
Ia juga mengungkapkan kesiapannya sembari mengucap "bismillah" dan
mencium bendera merah putih di rumah Si Pitung.[91]
Selepas pengumuman ini, indeks IHSG
melesat 152,47 poin menjadi 4.878,64,[92]
sementara nilai tukar rupiah
terhadap dollar Amerika Serikat menguat hingga angka
11,386.[93]
Pencalonan Jokowi juga diperkirakan dapat mendongkrak suara PDI-P hingga 30%
dalam pemilu legislatif.[94]
Namun, hasil hitung cepat menunjukkan bahwa suara PDI-P gagal mencapai 20%.[95]
Lima hari setelah deklarasinya, pada tanggal 19 Maret 2014 Joko Widodo digugat
oleh Tim Advokasi Jakarta Baru di Pengadilan Negeri
Jakarta Pusat.
Ia dinilai melanggar hukum perdata karena meninggalkan jabatannya
sebagai gubernur sebelum merealisasikan janji-janjinya untuk melaksanakan
program kerakyatan.[96]
Namun, Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengkonfirmasi bahwa pencapresan
Jokowi tidaklah melanggar hukum. Ia berhak maju dan akan dengan mudah mendapat
izin dari Presiden tanpa harus mengundurkan diri karena sudah diatur dalam
Undang Undang No 47 Tahun 2008 mengenai Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden.
Seorang kepala daerah yang hendak maju dalam Pemilihan Presiden harus
mengajukan surat permintaan izin kepada Presiden dan Gamawan Fauzi tidak merasa
memiliki alasan untuk menghalanginya.[97]
Pada tanggal 19 Mei 2014, Jokowi mengumumkan bahwa Jusuf Kalla
akan menjadi calon wakil presidennya.[98]
Pengumuman sekaligus deklarasi tersebut berlangsung di Gedung Joeang 45 di Menteng, Jakarta.[98]
Pencalonan tersebut didukung oleh koalisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan,
Partai NasDem,
Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Hanura.[98]
Pada hari yang sama, Jokowi dan Jusuf Kalla secara resmi mendaftar di Komisi Pemilihan Umum.[99]
Menjelang pemilihan umum presiden, terdapat berbagai macam
kampanye hitam yang dialamatkan kepada Jokowi, seperti isu capres boneka,[100]
keislaman Jokowi yang diragukan,[101]
tuduhan bahwa Jokowi adalah orang Tionghoa yang merupakan putra dari Oei Hong Leong,[102]
hingga klaim bahwa ia adalah antek asing dan bahkan zionis.[101]
Kebijakan
Jokowi memulai masa kepresidenannya dengan meluncurkan Kartu
Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, dan Kartu Keluarga Sejahtera. Upaya
ini oleh partai oposisi dianggap untuk meredam sementara kenaikan harga BBM.[103]
Jokowi dikritik karena meluncurkan program yang tidak memiliki payung hukum dan
melanggar tertib anggaran[104]
, namun hal ini dibantah oleh Jusuf Kalla, dengan argumen bahwa program kartu
tersebut sebenarnya kelanjutan dari program yang sudah ada sehingga anggarannya
pun mengikuti program tersebut.[105]
Mulai tanggal 8 November, ia mengikuti beberapa konferensi tingkat
tinggi, seperti APEC, Asian Summit, dan G20. Jokowi menuai kontroversi setelah
presentasinya di depan pengusaha di APEC. Sebagian mencerca presentasi ini
sebagai upaya menjual negara kepada kepentingan asing[106],
sementara di lain pihak pidatonya dipuji karena dianggap tepat pada sasaran,
dibanding presiden negara lain yang hanya memberi ceramah yang mengambang[107].
Dari APEC, Jokowi berhasil membawa komitmen investasi senilai Rp300 Triliun.[108]
Sekembalinya dari luar negeri, ia menunjuk Faisal Basri
sebagai ketua Tim Pemberantasan Mafia Migas, melantik Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur DKI
Jakarta, dan mengumumkan kenaikan BBM dari Rp6.500 menjadi Rp8500. Kebijakan
ini sempat diikuti demonstrasi di berbagai daerah di Indonesia.[109][110]
Jokowi ingin mengalihkan dana subsidi tersebut untuk pembangunan infrastruktur
dan kesehatan.[111]
Dia kembali menuai kontroversi setelah menunjuk HM Prasetyo sebagai Jaksa
Agung. HM Prasetyo dinilai tidak punya pengalaman cukup baik di kejaksaan dan
dianggap sebagai titipan partai politik.[112]
Di bidang kelautan, Jokowi menginstruksikan perlakuan keras
terhadap pencuri ikan ilegal. Selain meminta diadakannya razia, ia juga
berharap kapal pelanggar aturan ditenggelamkan.[113]
Di bidang pertanian, Jokowi membagikan 1099 unit traktor tangan di
Subang dengan harapan menggenjot produksi petani.[114]
Jokowi kembali menuai kontroversi dan protes luas dari berbagai
elemen masyarakat ketika mengajukan calon tunggal Kapolri Komisaris Jenderal
Polisi Budi Gunawan
ke DPR pada pertengahan Januari 2015. Budi dianggap sebagai calon Kapolri yang tidak
bersih oleh publik serta pernah menjadi ajudan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri yang dianggap sebagai
politik balas jasa. Sehari sebelum disahkan sebagai calon Kapolri oleh
DPR, Budi Gunawan ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK atas kasus dugaan rekening gendut. Presiden
Jokowi lalu memutuskan untuk menunda pelantikannya sebagai Kapolri hingga
proses hukum yang membelit Budi Gunawan selesai serta menunjuk Wakapolri Komjen
Pol Badrodin Haiti untuk melaksanakan tugas
sehari-hari Kapolri.[115].
Pada akhirnya Badrodin Haiti resmi dilantik menjadi Kapolri oleh Presiden
Jokowi pada tanggal 17 April 2015.[116]
Presiden Jokowi juga kembali menuai kecaman keras setelah
menandatangani Peraturan Presiden tentang Kenaikan Uang Muka Mobil Pejabat.
Jokowi pun mengaku tidak tahu Perpres yang ditandatanganinya dan akhirnya
mencabut Peraturan tersebut.[117]
Jokowi mendapat sambutan hangat dan pujian ketika menyampaikan
pidato di hadapan peserta peringatan ke 60 tahun Konferensi Asia Afrika pada 22 April 2015.
Jokowi menyampaikan perlunya mereformasi PBB dan badan internasional lainnya.
Ia dipandang berani mengkritik lembaga prestisius dunia seperti PBB, Dana Moneter Internasional, dan Bank Dunia.
Jokowi pun menuai kritik dari peneliti Amerika Serikat karena ia dipandang
tidak konsisten dalam mengajak investor asing untuk masuk ke Indonesia.[118]
Di bidang infrastruktur, Jokowi telah memulai banyak proyek
pembangunan untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam sektor ini,
diantaranya adalah melakukan groundbreaking pembangunan pasar tradisional di
Papua[119],
Jalan Tol Trans-Sumatera[120],
Tol Solo-Kertosono[121],
pelabuhan Makassar[122],
meresmikan operasional terminal Teluk Lamong sebagai bagian dari Greater
Surabaya Metropolitan Port[123],
dan lain sebagainya.
Pada kunjungannya ke Papua bulan Mei 2015, Jokowi membebaskan 5
tahanan politik OPM dan membebaskan wartawan asing untuk
melakukan peliputan di Papua seperti halnya daerah lain di Indonesia. Jokowi
beralasan bahwa Indonesia sudah harus berpikir positif dan saling percaya[124].
Kebijakan Jokowi ini menuai pro dan kontra, terutama di kalangan DPR RI yang
menyatakan bahwa kebijakan tersebut dapat membuat isu Papua dipolitisir ke
dunia luar, karena masalah Papua yang sangat sensitif.[125]
Agama
Jokowi
memeluk agama Islam
dan bercerita bahwa ia pertama kali naik haji pada tahun 2003, dan sesudahnya
umrah minimal empat kali.[126]
Namun, menjelang pemilihan umum presiden 2014, muncul berbagai tudingan yang
mempertanyakan keislaman Jokowi, sehingga pada tanggal 24 Mei 2014 Jokowi
menyatakan bahwa ia adalah bagian dari "Islam yang rahmatan lil alamin,
Islam yang hidup berketurunan dan berkarya di negara RI yang memegang teguh UUD
45."[127]
Ia juga menyatakan bahwa ia bukan bagian dari kelompok Islam yang "sesuka
hatinya mengafirkan saudaranya sendiri", "menindas agama lain",
"arogan dan menghunus pedang di tangan dan di mulut", "suka
menjejerkan fustun-fustunnya", "menutupi perampokan hartanya,
menutupi pedang berlumuran darah dengan gamis dan sorban", atau "membawa
ayat-ayat Tuhan untuk menipu rakyat".[127]
Ideologi
Sebagai Presiden Indonesia terpilih, Jokowi menegaskan sikap
politiknya untuk memimpin Indonesia dengan kekayaan manusia, budaya, dan pluralitasnya
supaya tidak kehilangan arah dalam mengejawantahkan isi UUD 1945 dan makna
Pancasila. Sikap ini menurutnya juga dipandang perlu diimplementasikan oleh
setiap pemimpin pada semua level pemerintahan baik kota hingga skala nasional.
Jokowi memilih memaknai lewat ajaran trisakti Bung Karno
yakni berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan
berkepribadian nasional di bidang kebudayaan.[128]
"Saya sebagai seorang Presiden juga harus punya ideologi
jelas, apa itu? Berdaulat, berdikari dan berkepribadian. Ideologi kita sama,
Pancasila, tetapi cara penerapannya berbeda. Ada yang lewat gerakan perubahan
restorasi Indonesia, ada yang lewat cara cara lain. Seorang pemimpin baik di
kota, kabupaten, gubernur provinsi, tingkat nasional, memimpin itu harus punya
ideologi. Harus ada ideologinya. Tanpa itu kita tak punya arah." [128]
Penghargaan
Atas prestasinya, oleh Majalah Tempo,
Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari "10 Tokoh 2008".[129]
Kebetulan di majalah yang sama pula, Basuki Tjahaja Purnama, atau akrab dengan
panggilan Ahok pernah terpilih juga dalam "10 Tokoh 2006" atas
jasanya memperbaiki layanan kesehatan dan pendidikan di Belitung Timur. Ahok
kemudian menjadi pendampingnya di Pilgub DKI tahun
2012.[130]
Ia juga mendapat penghargaan internasional dari Kemitraan
Pemerintahan Lokal Demokratis Asia Tenggara (Delgosea) ini atas keberhasilan
Solo melakukan relokasi yang manusiawi dan pemberdayaan pedagang kaki lima.[131]
Pada tanggal 12 Agustus 2011, ia juga mendapat penghargaan Bintang
Jasa Utama untuk prestasinya sebagai kepala daerah mengabdikan diri kepada
rakyat.[132]
Bintang Jasa Utama ini adalah penghargaan tertinggi yang diberikan kepada warga
negara sipil.[133]
Pada Januari 2013, Joko Widodo dinobatkan sebagai wali kota terbaik ke 3 di
dunia atas keberhasilannya dalam memimpin Surakarta sebagai kota seni dan
budaya, kota paling bersih dari korupsi, serta kota yang paling baik
penataannya.[134]
Oleh KPK, dia diberi penghargaan atas keberaniannya melaporkan berbagai barang
gratifikasi yang diterima.[135]
Atas kemampuannya mensosialisasikan program-progam pemerintah
sehingga mendapat dukungan masyarakat banyak, ia diganjar sebagai Marketer of
The Year 2012 oleh Markplus Conference 2013, Marketing: Into Innovation and
Technology.[136]
Gaya kepemimpinan
Jokowi dikenal akan gaya kepemimpinannya yang pragmatis dan
membumi. Ia seringkali melakukan "blusukan" atau turun langsung ke
lapangan untuk melihat langsung permasalahan yang ada dan mencari solusi yang
tepat. "Blusukan" juga dilakukan untuk menemui lan.
Ia juga mendapat penghargaan internasional dari Kemitraan
Pemerintahan Lokal Demokratis Asia Tenggara (Delgosea) ini atas keberhasilan
Solo melakukan relokasi yang manusiawi dan pemberdayaan pedagang kaki
lima.gsung warga dan mendengar keluh kesah mereka. Gaya yang unik ini dijuluki The New York Times sebagai "demokrasi
jalanan".[137]
Jokowi juga dianggap unik dari pemimpin lainnya karena tidak sungkan untuk
bertanya langsung kepada warga dan mendekati mereka bila akan melancarkan suatu
program.[138]
Namun, gaya ini juga menuai kritik. Misalnya, ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman
menyatakan bahwa "blusukan" hanya menghabiskan waktu dan energi,
sementara yang dibutuhkan adalah kebijakan langsung dan bukan sekadar interaksi.[139]
Anies Baswedan
juga menilai "blusukan" merupakan pencitraan belaka tanpa memberikan
solusi.[140]
Selain "blusukan", kepemimpinan Jokowi juga dikenal akan
transparansinya.
Misalnya, Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama sama-sama mengumumkan jumlah
gaji bulanan dan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah kepada umum.[141][142]
Ia juga memulai sejumlah program yang terkait dengan transparansi seperti online
tax, e-budgeting, e-purchasing, dan cash management system.[141]
Selain itu, semua rapat dan kegiatan yang dihadiri oleh Jokowi dan Basuki
direkam dan diunggah ke akun "Pemprov DKI" di YouTube.[143]
Gaya kampanye
Gaya berkampanye Jokowi untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta menekankan
pendekatan langsung kepada masyarakat dengan mendatangi mereka langsung
daripada mengumpulkan orang di lapangan.[144]
Jokowi mengklaim bahwa ia menghindari pemasangan spanduk, poster, stiker, dan
baliho di taman kota atau jalan karena menurutnya dapat mengotori kota,
sehingga ia secara langsung mencopot spanduk di depan bioskop Megaria, Jalan
Diponegoro.[145]
Selama kampanye pilkada Jakarta, Jokowi juga dikenal akan baju kotak-kotaknya,
yang menurutnya dibeli satu jam sebelum berangkat ke Komisi Pemilihan
Umum Daerah dan dikatakan mewakili "warna-warni Jakarta yang
harus diakomodasi".[146]
Salah satu kekuatan Jokowi dalam berkampanye adalah penggunaan media sosial.
Selama kampanye pilkada Jakarta, ia meluncurkan Jasmev
atau Jokowi Ahok Social Media Volunteer, yang merupakan jaringan antar
kelompok sukarelawan tanpa bayaran.[54]
Selain itu, Jokowi juga membentuk media center[55]
dan mampu memanfaatkan Youtube sebagai wadah kampanye baru.[56]
Pihak Fauzi Bowo sendiri mengakui keunggulan Jokowi di kanal ini.[57]
Berdasarkan hasil audit Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta pada
Agustus 2012, pemasukkan dana kampanye pasangan Jokowi-Basuki tercatat sebesar
Rp 16,31 miliar, sementara pengeluarannya mencapai Rp 16,09 miliar.[147]
Sebagian besar dana dialokasikan untuk spanduk, alat peraga, dan bahan
kampanye, dengan biaya penyebaran bahan kampanye sebesar Rp 4,2 miliar, alat
peraga sebesar Rp 2,6 miliar, dan rapat umum sebesar Rp 2,1 miliar.[147]
Biaya iklan cetak sendiri tercatat sebesar Rp 729 juta, sementara biaya iklan
radio mencapai Rp 516 juta.[147]
Jokowi mengklaim bahwa sebagian besar dana digunakan untuk kampanye
"murah" dengan sasaran rakyat kecil.[147]
Sebagai perbandingan, pengeluaran kampanye Fauzi Bowo tercatat sebesar Rp 62,57
miliar, sementara pemasukkan dana kampanyenya mencapai Rp 62,63 miliar.[147]
Salam Dua Jari
Lagu kampanye pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK)
mendapat perhatian media internasional. Dua wartawan asal Indonesia, Eveline
Danubrata dan Heru Asprihanto menulis artikel yang dipublikasikan Reuters.
Artikel tentang lagu kampanye Jokowi-JK tersebut berjudul Give us jobs, not
rock songs, say Indonesia's young voters.[148]
Citra politik
Berkat kampanyenya selama pemilihan umum Gubernur DKI Jakarta
2012 yang menjanjikan "Jakarta Baru", ia melejit menjadi
tokoh nasional yang dikenal bersih, merakyat, dan mampu menyelesaikan masalah.[149]
Popularitasnya meroket hingga ia merajai survei-survei calon presiden seperti
yang digambarkan pada tabel berikut:
Namun, menjelang pemilihan umum presiden Indonesia 2014, dugaan
keterlibatan Joko Widodo dalam kasus TransJakarta dikatakan mengganjal
elektabilitas Joko Widodo.[150]
Selain itu, akibat gencarnya kampanye hitam, menurut Saiful Mujani Research and
Consulting tren kesukaan masyarakat terhadap Jokowi menurun hingga 8% sampai
April 2014.[151]
Kontroversi
Mantan tim sukses Jokowi diduga terlibat dalam kasus busway
berkarat, dan bahkan keluarga Jokowi dituduh menerima aliran dana busway
berkarat; namun, Jokowi membantah hal tersebut,[152][153][154]
dan Jaksa Agung Basrief Arief menegaskan bahwa kasus ini "belum atau boleh
dikatakan tidak menyangkut kepada Jokowi".[155]
Jokowi juga dikritik karena tidak mematuhi janjinya untuk menyelesaikan masa
jabatannya sebagai gubernur Jakarta,[156]
walaupun Jokowi sendiri menyatakan bahwa bila ia menjadi presiden, akan lebih
mudah mengurus Jakarta karena memiliki wewenang terhadap proyek pemerintah
pusat di ibukota.[157]
Ada anggapan bahwa Jokowi termasuk gagal mengatasi banjir dan macet.[158][159]
Anggapan bahwa Jokowi gagal dalam mengatasi banjir dan macet di Jakarta membuat
popularitasnya menurun.[160]
Data dari BPS juga menunjukkan angka kemiskinan di Solo naik saat Jokowi
menjadi wali kota Solo.[161]
Melesatnya popularitas Jokowi juga dikritik sebagai pengaruh media yang kerap
menonjolkan kebaikan Jokowi sementara kelemahannya ditutupi.[162][163]
Selain itu, Jokowi didapati menaiki pesawat jet pribadi untuk berkampanye dari Banjarmasin
ke Kota Malang,
yang dianggap bertentangan dengan gaya hidup sederhana.[164]
Sementara itu, Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia Taufik Bahauddin
mengkhawatirkan kontroversi yang terjadi pada pemerintahan Megawati seperti
skandal BLBI,
penjualan BUMN,
penjualan kapal tanker VLCC Pertamina dan penjualan gas murah ke China akan terulang pada
pemerintahan Jokowi.[165]
Kemunculan nama Jokowi pada soal Ujian Nasional[166]
dan kedatangan Jokowi di kampus ITB[167]
juga menuai kontroversi karena dinilai sebagai tindakan politisasi.
Pada masa kepresidenannya, Jokowi juga menuai kecaman setelah
salah menyebutkan kota tempat kelahiran Presiden RI pertama Ir. Soekarno
dalam pidatonya di alun-alun Kota Blitar pada tanggal 1 Juni 2015. Jokowi
menyebutkan Soekarno lahir di Blitar, namun secara sejarah Soekarno dilahirkan
di Jalan Pandean, Peneleh, Kota Surabaya. Beragam kritik pun dialamatkan kepada
bawahannya seperti Setneg dan Tim Komunikasi Presiden akibat memberikan bahan
yang salah kepada Presiden.[168]
Buku
- Majeed, Rushda. "The City With a Short Fuse." Foreign Policy. September 2012.
- Majeed, Rushda. "Defusing a Volatile City, Igniting Reforms: Joko Widodo and Surakarta, Indonesia, 2005-2011." Innovations for Successful Societies. Universitas Princeton. Dipublikasikan pada bulan Juli 2012.
- Endah, Alberthiene. 2012.Jokowi: Memimpin Kota Menyentuh Jakarta.
- Suroso, Gatotkoco. 2012. Jokowi: Si Tukang Kayu.
- Ambarita, Domu D.; Megawati Soekarnoputri (pengantar). 2012. Jokowi: Spirit Bantaran Kali Anyar.
- Thayrun, Yon. 2012. Jokowi: Pemimpin Rakyat Berjiwa Rocker
- Hari Prast (Illustrator), Yoga Adhitrisna (Goodreads Author), Satriyo Wibowo. 2014. DEMOKREATIF: Kisah Blusukan Jokowi
- Kristin Samah, Francisca Ria Susanti. 2014. Saya Sujiatmi, Ibunda Jokowi
- Kompasiana. 2013. Jokowi (Bukan) Untuk Presiden
- Syahirul A., Anas. 2013. Gado-Gado Kerikil Jokowi
- Yogaswara, A. 2012. Jokowi Ahok
- Sudarsono. Jokowi Effect
- Nugroho, Bimo. 2014. Indonesia Memilih Jokowi
- Nugroho, Bimo; Panca Setia, M. Yamin. 2014. Jokowi People Power
- Supriyono, Arif. 2012. Jokowi, Tokoh Perubahan
- Bimoseno, Arimbi. 2014. Jokowi Rapopo Jadi Presiden
- Nugroho, Bimo; Dwi Nugroho, Ajianto. Jokowi : Politik Tanpa Pencitraan
- Tim Relawan. 2014. Selamat Datang Presiden Jokowi
- Putra, Owen. Si Nyentrik yang Disukai: Jokowi
- Kompasiana. 2014. Presiden Jokowi: Harapan Baru Indonesia
- Aksan, Hermawan. 2014. Jokowi Aku Rapopo : pandangan seorang jurnalis
- Indradie, Andri. 2013. Rakyat Memantau Ibukota, Rakyat Memantau Jokowi - Basuki
- Suwiknyo, Dwi. 2012. Jokowi: Pemimpin Yang Rendah Hati
- Soeseno, Ki Nardjoko. 2013. Falsafah Jawa Soeharto & Jokowi : menjadi pemimpin kharismatis ala Soeharto dan Jokowi
- Sugiharto, R. Toto. 2012. Spirit Semut Ireng Jokowi: Muka Metal, Hati Keroncong
- Taufani, Bernard. 2012. Jokowi: From Zero to Hero: Kisah Nyata Anak Miskin Yang Menjadi Orang Besar
- H.M., Zaenuddin. 2013. Banjir Jakarta: Dari Zaman Jenderal J.P. Coen (1621) sampai Gubernur Jokowi (2013)
- Zaenuddin. 2012. Jokowi, Dari Jualan Kursi Hingga Dua Kali Mendapatkan Kursi: Kisah Wali Kota Yang Inspiratif
- Yazid, Husin. Berebut Kursi Jakarta Satu, Kenapa Foke & Jokowi?: Data Dan Analisis Putaran Pertama Pilkada DKI Jakarta
Film
- Jokowi (film), adalah film drama Indonesia tahun 2013. Film ini dibintangi oleh Teuku Rifnu Wikana dan Prisia Nasution. Film ini dirilis pada tanggal hari Kamis, 20 Juni 2013 untuk menyambut hari ulang tahun Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo yang ke-52 pada tanggal hari Jumat, 21 Juni 2013, bersamaan dengan perayaan ulang tahun Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang ke-486 pada tanggal hari Sabtu, 22 Juni 2013.
- Jokowi adalah Kita adalah film drama Indonesia yang mengisahkan tentang Joko Widodo. Film ini dibintangi oleh Ben Joshua, Sylvia Fully, dan Agustin Taidy. Film ini akan dirilis pada tanggal 20 November 2014.[169] Namun penayangannya mengalami penundaan karena keputusan pemerintah untuk menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).[170]

EmoticonEmoticon